Catatan Perjalanan di Kyoto, Japan dalam rangka konferensi internasional November 2012.
“ Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).. dan hanya kepada Tuhan mu lah engkau berharap.” QS. Al-Inshirah: 5-8
Teman – teman semua yang membaca
blog ini, tidak ada niatan untuk sombong ketika ingin menulis cerita perjalanan
saya menuju tanah impian yang sebelumnya tak pernah terlintas dikepalaku,
karena semua nikmat yang saya dapatkan murni adalah salah satu Kekuatan-Nya dan
kita sebagai manusia harus mempercayainya dan terus menerus bersyukur. J
Semoga berguna bagi teman – teman
yang punya mimpi ke luar negeri dengan uang dikantong terbatas (maklum... saya
jg mahasiswa yang sangunya pas – pasan.. hehe) tapi punya semangat untuk
mewujudkan mimpi yang besar (atau lebih tepatnya Nekat!)... Yakinlah bahwa
salah satu kunci sukses itu ya Nekat itu sendiri.. J
Oke... kita mulai ceritanya... Acara
SUSTAIN 2012 ini saya ketahui dari kelompok diskusi bahasa Inggris di UGM yaitu
Gadjah Mada English Club (GEC) yang beranggotakan mahasiswa – mahasiswa dari
seluruh fakultas di UGM yang mempunyai pengalaman pergi ke luar negeri dan
kelompok ini adalah suatu wadah untuk bertukar informasi tentang Student Exchange dst. (Namun sejak 2012
sudah jarang kumpul L ).
Dua mahasiswa dari Fakultas
Kehutanan dan Fakultas Farmasi, yang pertama merupakan mantan ketua International Forestry Student Association
(IFSA) Indonesia, Mbak Putri Permatasari dan Fany Mutia Cahyani, aktivis
mahasiswa yang telah mempunyai nama di fakultas dengan lambang ular dan cawan
itu memberi saya cerita bagaimana negara Jepang lewat versi mereka yang
tentunya membuat saya berkata berkata dalam hati “klo mereka bisa, kenapa saya
g bisa? toh asal ada usaha keras!”. Seketika itu dalam hatiku ku tekadkan untuk
berusaha lebih keras, belajar lebih keras dan berdoa kepada Tuhan secara
kontinyu (ini jangan ditiru ya... hehe.. berdoa ketika ada perlu aja J )
Percobaan pertama tahun 2011,
GATOT! Gagal total! Ini karena perencanaan yang kurang matang dan tekad yang
kurang kuat plus pada tahun 2011 bulan September saya disibukkan dengan agenda
Kuliah Kerja Lapangan III Prodi Pembangunan Wilayah di Malaysia yang menguras
tenaga, waktu dan emosi saya! Sebenarnya saya berniat agak nekad dan sembrono
pada tahun 2011 yakni September ke Malaysia, November ke Jepang dan Desember ke
Azerbeijan karena semua acara tersebut sudah mendapat Letter of Accepted tinggal cari pendanaan. Ternyata Tuhan berkata
lain dan satu pelajaran yang ku dapatkan waktu itu. Sabar lan nrimo!
Nah baru pada tahun 2012 ketika saya
mendapat kepercayaan sebagai Assitant Researcher di Pusat Studi Pariwisata UGM
mendampingi salah seorang peneliti populer, Erda Rindrasih, MURP. Riset yang
nantinya saya presentasikan di SUSTAIN 2012, Kyoto Jepang sebagai salah satu
tanggung jawab intelektual seorang peneliti kepada masyarakat. Paper yang kami
publikasikan ada di tulisan saya sebelumnya (silakan liat sendiri ya... J ).
Adakah yang pernah mendengar
salah satu konferensi internasional bernama SUSTAIN 2012? Jika belum... saya
ulas sedikit saja... Konferensi tingkat Internasional ini diadakan oleh
mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Jepang, tepatnya di Kyoto yang
tergabung dalam Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Kyoto. PPI Kyoto ini masih
satu bagian dengan PPI Kansai (area meliputi Kansai, Kyoto, Kobe,Hirishima,
etc) so... bisa dikatakan mahasiswa yang berada di Jepang bagian selatan masuk
dalam kepengurusan PPI Kansai ini.
Saya tidak akan berbicara panjang
lebar terkait teknis SUSTAIN 2012 karena bisa Anda lihat sendiri di web nya
yakni www.sustain-kyoto.com. Namun yang pasti paper saya
dengan mbak Erda lolos beserta 119 paper lain dari 19 negara peserta konferensi
yang tersebar mulai dari Amerika, Eropa hingga Asia sendiri.
![]() |
SUSTAIN 2012 opening ceremony |
![]() |
Presentation |
![]() |
Dubes Indonesia untuk Kerajaan Jepang |
![]() |
Gala dinner |
![]() |
Japanese sushi |
Saya mau berbicara terkait lika –
liku perjuangan meraih impian J
Awal cerita dimulai sekitar 6
bulan terhitung sejak bulan Juni 2012 abstract
di terima, perjuangan ke negeri Sakura itu BARU di mulai! Terutama Dana sekitar
12 juta harus saya persiapkan! Pas waktu registrasi konferensi sebesar 15.000
yen atau sebesar Rp. 1.800.000,- (kurs Rp 120,- @ 1 yen) aja uang dikantong Rp
0,- alias lagi kere! Apalagi harus
punya 10 juta an! Tapi dari sejak SMA modal utama hidupku bukanlah modal maupun
pintar, namun SEMANGAT pantang nyerah hingga akhir! Nah karena ini paper adalah
milik kami berdua so... uang pendaftaran alhamdulillah di backup ma mbak Erda.. Thanks ya mbak... ok.. masalah pertama
selesai... J
Masalah selanjutnya ketika akan
bepergian ke luar negeri adalah Transportasi dan Akomodasi! Jangan sampai salah
perencanaan di kedua hal ini! Dampaknya bisa lumayan parah di perjalanan nanti...
(Pengalaman menjadi panitia bepergian ke luar negeri tahun2 sebelumnya sangat
membantu J).
Transportasi terutama Pesawat PP
Jogja – Kansai harus diperhitungkan secara matang. Untuk satu hal ini saya
konsultasi secara detail dengan teman yang sebelumnya sudah ke Kyoto tahun 2011
lewat Bandara Kansai International Airport yaitu Fany seperti pesawat apa yang
paling terjangkau melalui budget
saya. Bedanya ketika Fany mengajukan ke Garuda untuk sponsor, dia dapet persenan
gede hampir 60%, nah pas aku ngajuin cm dapet 10% dari total 8 juta. So...
akhirnya aku pilih Air Asia dengan harga Rp 4.500.000,- PP Jakarta – Kansai.
Nah... untuk perjalanan dari PP Jogja ke Jakarta, saya memilih kereta api
Bogowonto seharga Rp.300.000,- (lumayan ngirit sekaligus backpakeran).
![]() |
Yasaka taxi |
Untuk transportasi lokal Kansai –
Kyoto, saya konsultasi dengan mbak Erda yang beberapa minggu sebelumnya ke
Retsumeikan University, Kyoto bersama Pusat Studi Bencana UGM dan minta contact person mahasiswa lokal, dapetlah nama Nanako. Nah dia
ini yang mem booking beberapa tiket perjalanan bus dan taxi dari Kansai ke
Kyoto maupun angkutan lokal apa yang bisa saya gunakan untuk keliling Kyoto
(Arigatou Nanako J). Dan ternyata dia juga bisa
bahasa Indonesia karena 6 kali ke Indonesia untuk studi tentang kebencanaan
jadi setidaknya dia bisa diajak bercanda pake bahasa ibu.. hehe
Nah hal rawan kedua yang harus
direncanakan adalah penginapan! Penginapan di Jepang rata2 3.500 – 5000 yen
atau sekitar Rp.420.000,- - Rp 600.000,-. Wow! Itulah kata pertama kali terucap!
Secara, waktu di kuliah aja uang saku orang tua berkisar 1 juta saja, jadi kalo
dengan 1 juta di Jogja bisa hidup satu bulan di Jepang Cuma 2 hari! Aduh mak!
Disinilah otak saya berputar keras, bagaimana saya dapat penginapan Gratis?
Setelah sholat malam, jawaban itu muncul. Kita kan punya saudara dari Indonesia
yang mungkin berbelas kasih ma mahasiswa kere
seperti saya... dan alhamdulillah setelah meng-email beberapa kenalan dari
dosen saya mendapatkan tempat tinggal di apato milik mahasiswa Universitas
Brawijaya, Mas A.R. Taufiq dan Taiwan National University, Mas Widodo yang
sedang ambil S2 dan S3 di Kyoto University. Matur
nuwun sanget kang!
Masalah itu belum semuanya
teratasi lho... karena aq dapet tiket Air Asia dari tanggal 2 – 10 November 2012,
dan mereka berdua hanya bisa memberikan tempat selama conference saja, maka ada
5 hari sisa saya harus nggelandang di
Kyoto. Hehe... (karena alasan inilah saya membawa tas ransel ukuran 90 liter
biar bisa sekalian jalan – jalan alian backpakeran). Cari di internet kq ya
mahal semua, akhirnya saya kontak Akito Yanai (anak Jepang yang ambil S2 di
Kehutanan, ketemu waktu acara Java Summer
Camp 2011) untuk kasih guest house yang murah dan dekat dengan pusat kota
atau Kyoto Station.tapi untuk
efisiensi dan komunikasi dengan salah satu delegasi UGM lain, saya putuskan
untuk satu guest house dengan Binta Anjasni di Hoppers Guest House dengan tarif
cukup murah yakni 1500 yen tiap malam. So... masalah Transportasi dan akomodasi
Clear!
Masalah sebelum berangkat yang
lain adalah Visa Jepang! Awalnya sempat takut uang tiket pesawat sebesar
4,5juta bisa raib klo gak bisa dapet Visa Jepang dan gak berangkat karena pas
waktu ngurus di agen travel, harus mencantumkan surat kesanggupan orang tua membiayai
perjalanan dan surat rekomendasi dari bank (ini karena biasanya agen travel
mengambil Visa Travel dengan tenggat waktu 3 bulan). Nah... untuk inilah saya
putuskan saya urus semuanya sendiri sekalian belajar birokrasi di kedubes siapa
tau besok – besok akan belajar di Luar negeri juga Aminnn.... Akhir cerita
semua lancar meski pertama saya sempat ditolak petugas di keduataan Jepang
karena saya lahir di Blitar sehingga harus mengurus di Konjen Surabaya tapi
karena UGM Yogyakarta masuk region Jakarta, akhirnya petugas memperbolehkan.
Visa Accepted! Sempat agak menangis dan hati dredeg ketika naik bus kopaja menuju Stasiun Senen karena tiket
menuju Jepang sudah di tangan... Alhamdulillah.. atas semua Nikmat Mu Ya
Allah...
Ada teman – teman di kampus yang
bertanya dari mana saya dapat uang? Ok saya jabarkan! Di atas saya sudah
paparkan saya harus persiapkan sekitar 12 juta untuk perjalanan ke Jepang ini
(uang yang sangat sangat besar bagi mahasiswa kere seperti saya). Ada pemasukan sekitar 3 juta dari tempat saya
bekerja part time yaitu di Pusat Studi Pariwisata UGM, 6 Juta dari Proyek dg
Bappeda Kalimantan (ini gaji terbesar saya selama mahasiswa dan klo mau sy bisa
beli laptop baru tapi demi impian saya, harus ada yang dikorbankan selama untuk
belajar J), 1 Juta dari Fakultas Geografi UGM dan 2,5 juta
dari Dirmawa UGM. Sebenarnya saya sudah pontang
– panting ke sana kemari untuk cari sponsor namun Allah belum berikan
kemudahan untuk jalan yang ini. Tapi saya anggap semua pemasukan di atas adalah
rezeki Allah untuk saya dan alhamdulillah saya tidak memberatkan orang tua
karena hanya doa yang saya butuhkan dari beliau.
![]() |
Kyoto Muslim Association |
Ini cerita yang menjadi
pembelajaran akan kuasa Tuhan kepada saya ketika saya meragukan
kekuatan ayat “Man Jadda Wajadda” (Jadi maka jadilah). Waktu itu saya sudah pasrah
tak akan dapat sisa uang 6 juta karena hanya sisa 1 bulan sebelum berangkat!
Menurut perhitungan matematika ku (meskipun matematika di kuliah aq dapet C..
hehe) sudah gak mungkin saya bisa berangkat ke Jepang, tap matematika Allah
lebih hebat dan g bisa di nalar! Berita gembira dapat proyek di kalimantan
datang ketika saya sudah menyerahkan semuanya kepada Allah setelah berusaha
sekuat tenaga untuk mewujudkan mimpiku. Subhanallah... selepas sholat Jumat di
Masjid Kampus UGM dapat telpon dari salah satu dosen untuk membantu di
Kalimantan selama 1 bulan dan Selasa nya harus berangkat!atau 3 hari setelah
dikabari! Mau meragukan Kuasa Tuhan?? Jangan deh.. J
![]() |
Sustain 2012 friends |
![]() |
PPI Kyoto |
Itu tadi cerita perjuangan untuk
berangkat ke Jepang. Semoga jauh dari kata sombong karena diri ini hanyalah
hamba Allah ingin terus bersyukur atas semua karunia nikmat yang Allah berikan.
Semoga bermanfaat bagi mahasiswa
– mahasiswa lain yang punya MIMPI!
Next chapter:
Jepang [Part 1]: Kyoto University
“Meiji Restoration University”